▸ [ESSAY] REVOLUSI MENTAL DALAM SUDUT PANDANG KESEHATAN ... ♬
Minggu, 11 Maret 2018
♥ posted at: @00.28
0 wishes // make a wish?




 


Selain Pengobatan Tradisional atau Herbal, Revolusi Mental merupakan frase kata yang sedang popular dan banyak di perbincangkan beberapa waktu belakangan ini. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang dimaksud dengan revolusi adalah perubahan yang sangat mendasar dalam suatu bidang tertentu, sedangkan mental adalah sesuatu bersangkutan dengan batin, jiwa dan watak manusia yang bukan bersifat badan atau tenaga. Jadi apabila dua kata revolusi dan mental digabungkan maka dapat ditarik satu arti dari frase ini yaitu merubah watak manusia, yang tentunya ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.


Revolusi Mental pertama kali dipopulerkan oleh Bapak Sosialis Komunis Dunia bernama Karl Marx, dimana pemikirannya sangat banyak dipengaruhi oleh Filosofis Atheis Young Hegelian. Young Hegelian merupakan seorang filsuf yang sangat terkenal di Berlin. Karl Marx muda yang pada waktu itu aktif di perkumpulan Pemuda Hegelian yang merupakan kelompok ekstrim kiri anti Agama. Pemuda Hegelian beranggotakan para Dosen Muda dan pemuda ekstrim kiri. sementara istilah Revolusi Mental sendiri di ciptakan untuk program Cuci Otak dalam pengembangan faham Sosialis Komunis dikawasan Eropa yang daerahnya kapitalis, karena Agama yang dogmatis dianggap sebagai penghambat dalam pengembangan faham Komunis. Istilah Revolusi Mental juga dipakai oleh pendiri Partai Komunis China yg bernama Chen Duxiu bersama temannya yg bernama Li Dazhao sebagai doktrin dan cuci otak kepada para Buruh dan Petani dalam menentang kakaisran China.


Dalam revolusi nasional Indonesia, gagagasan Revolusi Mental memang tidak bisa dipisahkan dari Bung Karno. Dialah yang menjadi pencetus dan pengonsepnya. Dia pula yang mendorong habis- habisan agar konsep ini menjadi aspek penting dalam pelaksanaan dan penuntasan revolusi nasional Indonesia. Gagasan Revolusi Mental mulai dikumandangkan oleh Bung Karno di pertengahan tahun 1950-an. Tepatnya di tahun 1957.


Esensi dari Revolusi Mental ala Bung Karno ini adalah perombakan cara berpikir, cara kerja/berjuang, dan cara hidup agar selaras dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi nasional. “Ia adalah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala,” kata Bung Karno.


Perombakan cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup ini punya dua tujuan besar: pertama, menamankan rasa percaya diri pada diri sendiri dan kemampuan sendiri; dan kedua, menanamkan optimisme dengan daya kreatif di kalangan rakyat dalam menghadapi rintangan dan kesulitan-kesulitan bermasyarakat dan bernegara.


Untuk melancarakan Revolusi Mental ini, Bung Karno kemudian menganjurkan ‘Gerakan Hidup Baru’. Gerakan ini merupakan bentuk praksis dari Revolusi Mental. Menurut Soekarno, setiap revolusi mestilah menolak ‘hari kemarin’. Artinya, semua gaya hidup lama, yang tidak sesuai dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi, mestilah dibuang.


Bung Karno sadar, Revolusi Mental tidak akan berjalan hanya dengan celoteh dan kotbah tentang pentingnya perbaikan moral dan berpikir positif. Revolusi Mental versi Bung Karno bukanlah ajakan berpikir positif dan optimistik ala Mario Teguh. Karena itu, sejak tanggal 17 Agustus 1957 pemerintahan Soekarno melancarkan sejumlah aksi: hidup sederhana, gerakan kebersihan atau kesehatan, gerakan pemberantasan buta-huruf, gerakan memassalkan gotong-royong, gerakan mendisiplikan dan mengefisienkan perusahaan dan jawatan negara, gerakan pembangunan rohani melalalui kegiatan keagamaan, dan penguatan kewaspadaan nasional.


Soekarno menyebutkan Revolusi Mental bukanlah pekerjaan satu dua hari, melainkan sebuah proyek nasional jangka panjang dan terus-menerus. “Memperbaharui mentalitet suatu bangsa tidak akan selesai dalam satu hari,” ujarnya. Dia juga bilang, memperbaharui mentalitas suatu bangsa tidak seperti orang ganti baju; dilakukan sekali dan langsung tuntas (Rudi Hartono dalam Berdikari, 2014).


Revolusi Mental kemudian booming kembali di era pemerintahan Jokowi. Beliau menyebutkan bahwa hasil pembangunan yang belum optimal yang diselenggaraakan pemerintah terutama diakibatkan oleh mental bangsa yang belum berubah sejak era Orde Baru. Untuk itu program Revolusi Mental muncul dalam rangka membangun bangsa dengan merubah paradigma dan mindset tiap-tiap diri (individu). Revolusi Mental digambarkan dalam tiga nilai yakni integritas, etos kerja dan gotong royong. Dalam kehidupan sehari-hari, praktek Revolusi Mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong


Dalam bidang kesehatan, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F. Moeloek mengingatkan kembali masyarakat untuk mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental yang digulirkan pemerintah dalam kesempatan upacara bendera bertajuk "Gerakan Nasional Revolusi Mental" di Jakarta September 2015 lalu. Ia mengungkapkan contoh intervensi Revolusi Mental dalam bidang kesehatan yakni salah satunya dengan pengetahuan Ibu pasca melahirkan mengenai air susu ibu (ASI), bahwa ASI adalah hak setiap anak yang baru dilahirkan. ASI harus diberikan secara eksklusif selama enam bulan intensif dan setelah itu diberi makanan pendamping ASI yang bergizi. Menurutnya hal ini adalah hal awal yang harus diterapkan agar tercipta generasi yang maju, berkarakter, mandiri, berdaya saing untuk kemajuan bangsa Indonesia sendiri (berita dikutip dari Antar News, 2015).


Gerakan Nasional Revolusi Mental ini sendiri hanya dapat berjalan secara optimal dan efektif dengan keterlibatan dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Untuk itu dibutuhkan komunikasi yang aktif dari berbagai lini termasuk bidang kesehatan masyarakat. Kesehatan adalah sektor yang tidak dapat berdiri sendiri oleh karenanya dibutuhkan peran sektor laintermasuk sektor komunikasi, karena komunikasi adalah salah satu jembatan yang bisa bersinergi dengan sektor kesehatan.


Revolusi Mental dan keterkaitannya dengan komunikasi kesehatan di dalam keluarga?


Tiga nilai dalam Revolusi Mental yakni integritas, etos kerja dan gotong royong dapat diterapkan di berbagai lingkungan baik bermasyarakat, lingkungan kerja, lingkungan sekolah maupun keluarga. Menurut penulis pribadi Revolusi Mental perlu diawali dari lingkungan keluarga. Terlebih keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi seorang anak. Peran orang tua sangat berpengaruh karena orang tua cenderung menjadi role-model atau teladan bagi anak anaknya maka lahirlah peribahasa “buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya” atau “anak adalah bagaimana orang tuanya”.


Komunikasi menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Selaku makhluk sosial, tanpa adanya komunikasi, manusia tentu tidak dapat menjalankan aktifitas sehari-sehari secara optimal dan maksimal. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian ide, perasaan dan pikiran antara dua orang atau lebih sehingga terjadi perubahan sikap dan tingkah laku bagi semua yang saling berkomunikasi.


Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial, dalam interaksi dengan kelompoknya. Pada dasaranya keluarga adalah sebuah komunitas kecil. Kesadaran untuk hidup bersama dalam satu atap sebagai suami istri dan saling interaksi dan berpotensi punya anak akhirnya membentuk komunikasi baru yang disebut keluarga. Karenanya keluargapun dapat diberi batasan sebagai sebuah group yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita perhubungan mana sedikit banyak bertahan lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak.


Keluarga adalah suatu unit atau lingkungan masyarakat yang paling kecil atau merupakan masyarakat yang paling bawah dari satu lingkungan negara. Posisi keluarga atau rumah tangga ini sangat sentral seperti diungkapkan oleh Aristoteles bahwa keluarga rumah tangga adalah dasar pembinaan negara. Dari beberapa keluarga rumah tangga berdirilah suatu kampung kemudian berdiri suatu kota. Dari beberapa kota berdiri daru propinsi, dan dari beberapa propinsi berdiridatu negara (Noor, 1983).


Komunikasi Keluarga adalah suatu pengorganisasian yang menggunakan kata-kata, sikap tubuh (gesture), intonasi suara, tindakan untuk menciptakan harapan image, ungkapan perasaan serta saling membagi pengertian (Sedwig, 1985). Komunikasi dalam keluarga juga dapat diartikan sebagai kesiapan membicarakan dengan terbuka setiap hal dalam keluarga baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, juga siap menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga dengan pembicaraan yang dijalani dalam kesabaran dan kejujuran serta keterbukaan.


Komunikasi kesehatan dapat mempengaruhi sikap, persepsi, kesadaran, pengetahuan dan norma sosial yang kesemuanya berperan sebagai prekursor dalam perubahan prilaku. Komunikasi kesehatan sangat efektif dalam mempengaruhi prilaku karena didasarkan pada psikologi sosial, pendidikan kesehatan, komunikasi massa, dan pemasaran untuk mengembangkan dan menyampaikan promosi kesehatan  dan pesan pencegahan pencegahan.


Komunikasi kesehatan adalah pendekatan yang beragam dan multidisipin untuk mencapai buat kebijakan dan masyarakat untuk memperkenalkan, mengadopsi atau mendukung perilaku, praktek atau kebijakan yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil kesehatan dimana pesan-pesan kesehatan dikomunikasikan dari para pakar di bidang kesehatan medis dan masyarakat.


 


Komunikasi merupakan elemen penting dalam meningkatkan kesehatan baik masyarakat maupun individu. Di dalam keluarga sendiri, sebagai orang tua ialah wajib menjaga hubungan komunikasi (kesehatan), memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan anaknya, pengetahuan yang baik mengenai informasi informasi kesehatan tertentu dan tentunya mampu mengkomunikasikan secara non-verbal suatu informasi kesehatan dalam hal ini mencotohkan dan menerapkan hal hal yang baik mengenai kesehatan tersebut. Komunikasi dalam keluarga menurut Kumar (Wijaya, 1987) memiliki ciri- ciri; Empati, keterbukaan, dukungan, perasaan postif dan kesamaan.


Empati, empati adalah suatu perasaan individu yang merasakan sama seperti yang dirasakan orang lain, tanpa harus secara nyata terlibat dalam perasaan ataupun tanggpan orang tersebut.


Setiap petugas kesehatan harus memiliki sifat empati, terhadap suatu keluarga atau individu dalam keluarga yang memiliki masalah kesehatan tertentu. Perasaan empati ini diperlukan agar orang yang mengalami masalah kesehatan tersebut dapat lebih terbuka dalam menyampaikan masalah masalahnya lebih lanjut.


Syarat utama dari sikap empati adalah kemampuan untuk mendengar dan meengerti orang lain, sebelum di dengar dan di mengerti oleh orang lain. Setiap orang harus memiliki rasa empati, karena akan menanamkan salah satu dari tiga nilai Revolusi Mental yakni gotong royong. Rasa empati terhadap orang lain dapat membantu meringankan beban orang yang mengalami masalah kesehatan atau menderita suatu penyakit dan dapat menciptakan sifat peduli terhadap sesama warga masyaraakat.


Keterbukaan, keterbukaan adalah sejauh mana individu memiliki keinginan untuk terbuka dengan orang lain dalam berinteraksi. Keterbukaan yang terjadi dalam bentuk komunikasi ini memungkinkan perilakunya dapat memberikan tanggapan yang jelas terhadap apa yang diungkapkannya.


Dalam konsultasi kesehatan diperlukan keterbukaan sehingga penyampaian solusi atau informasi tepat guna atau tepat diagnosis. Sebagai contoh, ketika melakukan konsultasi KB pasangan suami istri maupun PUS (pasangan usia subur) diharapkan terbuka baik dari kondisi kesehatan sampai kondisi perekonomian mereka agar petugas kesehatan dapat memberikan rekomendasi rekomendasi yang sesuai dengan keadaan mereka. Misal rekomendasi akan punya anak berapa dan berapa jaraknya, jika pasutri atau pus tadi menerima rekomendasi tersebut dengan alasan kesejahteraan keluarganya secara tidak langsung juag akan meringankan permasalahan negara dari stabilitas kependudukan, ekonomi, ketahanan pangan dan kualitas generasi akan datang yang akan lebih terjamin dengan terkontrolnya jumlah pertumbuhan penduduk.


Dengan bersifat terbuka akan dicapai nilai integritas dalam tiga nilai Revolusi Mental. Integritas yang didalamnya mencakup kejujuran, kepercayaan, karakter, sikap bertanggung jawab. dengan bersifat terbuka keluarga akan jujur menyampaikan masalahnya kepada petugas, bertanggung jawab atas apa yang dikataknnya dan yang paling penting dari sifat terbuka diawali dengan rasa percaya, keluarga menanamkan rasa percaya mereka terhadap petugas kesehatan.


Keterbukaan lingkungan keluarga juga tidak hanya antara keluarga dan petugas kesehatan tetapi antar sesama anggota keluarga. Di dalam keluarga diharapkan anak terutama bersifat lebih terbuka dengan orang tuanya tentang berbagai masalah yang dihadapinya termasuk masalah kesehatan, terutama saat anak dalam usia remaja karena pada usia ini anak dalam kondisi labil dan dapat terpengaruh dengan lingkungan luar dengan cepat. Pentingnya sikap terbuka contohnya dengan perubahan perubahan yang dialami setiap anak saat pubertas, orang tua juga harus lebih peka terhadap setiap perubahan yang dialami anaknya. Dengan keterbukaan anak kepada orang tuanya, orang tua akan percaya terhadap anaknya dan anak akan lebih bertanggung jawab atas dirinya sendiri.


Dukungan, adanya dukungan dapat membantu seseorang lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas serta meraih tujuan yang diinginkan. Dukungan ini lebih diharapkan dari orang yang terdekat, yaitu keluarga.


Individu dengan masalah kesehatan atau penyakit yang tingkatnya kronik sangat membutuhkan dukungan dari orang sekitarnya, dan yang paling utama adalah dari keluarganya sendiri. Keluarga merupakan pendukung utama dalam proses penyembuhan suatu penyakit. Misalnya, saat salah satu anggota keluarga mengalami penyakit leukimia maka anggota keluarga yang lain wajib memberikan dukungan berupa material maupun moral. Dengan membiayai setiap pengobatan penderita untuk menyembuhkan kesakitan atau mengurangi rasa sakit anggota keluarga yang menderita semampu anggota keluarganya. Dukungan moral dengan memberikan kata kata dukungan atau kata kata motivasi yang postif untuk penderita seperti, “jangan khawatir, semua penyakit pasti ada obatnya” atau “sabar yang kuat ya, nak. Kamu sebentar lagi pasti akan sembuh”


Dengan memberikan dukungan kita akan menumbuhkan nilai gotong royong berupa solidaritas terhadap sesama dan nilai etos kerja yakni menanamkan nilai optimis pada diri baik penderita maupun keluarga yang mendukung.


Perasaan positif, perasaan yaitu dimana individu tertentu mempunyai perasaan positif terhadap yang sudah dikatakan orang lain terhadap dirinya.


Didalam keluarga ketika ada anggota keluarga yang sakit, anggota keluarga yang lainnya harus memberikan dukungan moral dengan memotivasi dan mengutarakan pemikiran pemikiran positif terhadapnya. Dengan ini akan kita akan menumbuhkan nilai etos kerja yakni menanamkan nilai optimis pada diri baik penderita maupun keluarga yang mendukung.


Kesamaan, kesamaan yang dimaksudkan yakni antara dua atau lebih orang yang berkomuniksi dalam lingkup tertentu mempunyai kedudukan sama dalam berbicara dan saling mendengarkan.


Ketika berkomunikasi tidak ada diantara dua orang atau lebih yang berkomunikasi kedudukan nya lebih tinggi dari yang lainnya. Tidak ada yang mengajarkan siapa, hal ini karena ketika berkomunikasi terjadi pertukaran informasi secara dua arah apalgi dalam lingkup keluarga. Kesamaan dapat diungkapkan melalui perlakuan yang ramah, saling menghargai, lemah lembut, sopan dan penuh pengendalian diri. Dengan sikap ini maka kelewasaan dalam pertukaraan informasi antara hubungan keluarga ini akan jadi lebih terbuka, sehingga banyak hal yang dapat diungkapkan dari diskusi tersebut. Dengan menanamkan sikap ini, maka akan ditanamkan kesmaan derajat pada setiap orang hal ini terkait integritas etos kerja dan gotong royong dalam nilai nilai Revolusi Mental.   


Salah satu fungsi keluarga adalah Fungsi Perawatan Atau Pemeliharaan Kesehatan (The Health Care Function). Untuk mencapai nilai nilai Revolusi Mental terkait rasa tanggung jawab, kemandiri, gotong royong, produktivitas dan lainnya setiap keluarga harus memahami dan melakukan 5 poin fungsi atau peran pemeliharaan kesehatanm diantaranya;


Mengenal masalah kesehatan, dalam hal ini orang tua harus mempu mengenal keadaan sehat dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarganya. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung akan menjadi perhatian dari orang tua atau pengambil keputusan dalam keluarga. Dengan ini orang tua akan merasa bertanggung jawab untuk selalu mengupgrade diri dengan menambah pengetahuan tentang informasi informasi kesehatan baik yang diperoleh secara langsung lewat tenaga kesehatan atau diperoleh dengan mencari informasi secara mandiri dan selalu pay attention atau memperhatikan terhadap segala perkembangan dan perubahan perubahan yang terjadi pada diri mereka sendiri maupun pada anak anak mereka. Dalam prakteknya orang tua akan menggunakan komunikasi baik verbal maupun non verbal. Non-verbal contohnya dengan mengamati oerilaku anaknya, atau lewat komunikasi verbal dengan bertanya langsung dan konsultasi.


Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga, peran ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yag mempunyai keputusan untuk memutuskan tindakan yang tepat (Suprajitno, 2004). Dalam hal ini adalah orang tua memiliki peran penting untuk memutuskan tindakan apa yang akan mereka lakukan untuk anggota keluarga mereka yang mengalami gangguan kesehatan apakah akan dilakukan padanya tindakan pengobatan atau perawatan atau tidak, apakah masalah kesehatan tersebut masih bisa ditangani sendiri atau tidak, apakah masalah kesehatan tersebut akan mempengaruhi langsung ataupun tidak langsung terhadapa keluarga baik dari segi ekonomi sosial ataupun budaya. Dengan peran ini tidak hanya pembuat keputusan nantinya tetapi semua anggota keluarga akan belajar, bagaimana sebuah keputusan akan berdampak pada tidak hanya satu sisi kesembuhan tetapi hal lainnya. Dari peran ini nilai Berpikir Secara Universal dan Kritis dari Revolusi Mental akan tercapai.


Memberikan perawatan terhadap keluarga yang sakit, beberapa keluarga akan membebaskan orang yang sakit dari peran atau tanggung jawabnya secara penuh. Pemberian perawatan secara fisik bisa jadi merupakan beban yang paling berat yang dirasakan oleh keluarga. Perawatan secara fisik yang dimaksud adalah perawatan baik tarapeutik di rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan ataupun melakukan pertolongan pertam di rumah saja. Keduanya memiili kebutuhan yakni ekonomi maupun pengetahuan. Apakah keluarga akan aktif membantu baik moral maupun material terhadap anggota keluarga yang mengalami sakit (merawat), atau bagaimana sikap keluarga terhadap keluarganya yang sakit. Dari hal ini, akan tumbuh nilai Empati dan Gotong Royong pada setiap individu dalam keluarga sebagai wujud dari Revolusi Mental.


Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga, hal ini berkaitan dengan pengetahuan dan kemampuan setiap anggota keluarga mengenai lingkungannya, termasuk yang paling berpengaruh adalah sanitasi. Pengetahuan tentang pentingnya sanitasi dan manfaatnya sangat diperlukan dalam lingkungan keluarga karena sifatnya yang cukup banyak mempengaruhi kesehatan. Dengan ini setiap anggota keluarga akan menanamkan nilai Revolusi Mental diantaranya Tanggung Jawab atas kebersihan dan penjagaan sanitasi lingkungan rumah dan Gotong Royong atau kebersamaan dalam meningkatkan dan memelihara lingkungan rumah yang menunjang kesehatan orang orang didalam lingkungan tersebut.


Menggunakan pelayanan kesehatan, mengenai hal ini adalah pengetahuan dan kepercayaan anggota keluarga terhadap pelayanan kesehatan. Apakah ketika ada yang sakit akan dibawa ke pusat pelayanan kesehatan seperti klinik, puskesmas, rumah sakit ataukah ketempat pelayanan kesehatan tradisional bisa jadi dukun dan lain sebagainya. Banyak hal yang mempengaruhi apakah keluarga bersedia menggunakan pelayanan kesehatan primer ataupun sekunder diantaranya kepercayaan atau budaya, rasa trauma terhadap perlakuan tetentu atau atas hasil tertentu terhadap kesehatan di masa lalu (pengalaman kurang menyenangkan terhadap fasilitas kesehatan atau petugas kesehatan tertentu), dan apakah fasilitas kesehatan tersebut dapat dijangkau dengan baik oleh keluarga atau tidak. Nilai yang kemungkinan didapat dari peran ini adalah nilai Kepercayaan dan nilai untuk mau Terus Berkembang/Explorasi Diri.


Seperti yang sudah dijelaskan sangat jauh sebelumnya, bagaimana seorang anak atau anggota keluarga bergaul atau dalam bersosialisasi di masyarakat adalah bagaiman ia dalam lingkungan keluarganya. Nilai nilai Revolusi Mental harus dikenalkan diterapkan terlebih dahulu di keluarganya. Karena keluarga adalah Madrasah atau Tempat Belajar paling utama dari tiap tiap individu.


 


 

◂◂ travel back in time ♪ // back to top \\ ♪ back to the future ▸▸
© All Rights Reserved 2011