Essay berikut dilombakan dalam Perayaan Bulan K3 Nasional yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat Univeristas Mulawarman
SAFETY IS
EVERYBODY’S BUSINESS
(Pengembangan
Budaya K3 dengan Program Pemberdayaan Pekerja untuk Mencapai Produktivitas
Kerja yang Tinggi)
Pendahuluan
Istilah budaya keselamatan pertama kali muncul setelah bencana
Chernobyl pada tahun 1986. Berdasarkan hasil investigasi oleh International
Atomic Energy Agency (IAEA) deikathui bahwa budaya keselamatan yang buruk
merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan tersebut.
Kecelakaan lain yang mengungkapkan bahwa budaya keselamatan termasuk faktor
penyebabnya adalah kebakaran bawah tanah King’s Cross di London pada tahun 1987
dan ledakan platform produksi minyak Piper Alpha pada tahun 1988[1].
Sejak saat itu, konsep budaya keselamatan terutama di industri dengan risiko
tinggi seperti industri nuklir dan petrokimia mengakui pentingnya unsur manusia
dan organisasi dalam pencegahan kecelakaan dan penanganan risiko bahaya.
Banyak literatur yang telah mendefinisikan budaya keselamatan. IAEA
(International Atomic Energy Agency) salah satunya mendefinisikan budaya keselamatan sebagai
serangkaian karakteristik, sikap dan perilaku keselamatan dalam individu dan
organisasi. Sementara itu, Cooper mendefinsikan budaya keselamatan sebagai
konsep yang menggambarkan nilai perusahaan bersama dalam suatu organisasi yang
mempengaruhi sikap dan perilaku pekerjanya. Tiga aspek budaya keselamatan ini
diantaranya adalah aspek perilaku, aspek situasional dan aspek individu. Aspek
perilaku mengacu pada “apa yang dilakukan orang-orang terkait keselamatan” yang
berkaitan dengan perilaku keselamatan atau safety behaviour. Aspek
situasional mengacu kepada “apa yang dimiliki organisasi mengenai keselamatan”.
Sementara itu, aspek individu mengacu pada “apa yang dirasakan tentang
keselamatan” yang merupakan fenomena psikologis dari suatu organisasi karena
menekankan pada persepsi pekerja terhadap sistem manajemen keselamatan yang ada
di organisasinya[2]. Adapun ketiga aspek tersebut saling
berinteraksi timbal balik antara satu dengan yang lainnya dan kemudian membentuk
budaya keselamatan yang positif.
Gambar 1. Konsep Budaya Keselamatan (Cooper, 2001)
Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Griffin dan Neal diketahui bahwa budaya
keselamatan organisasi dapat mempengaruhi kinerja keselamatan. Definisi
mengenai kinerja sendiri menurut Griffin dan Neal adalah perilaku aktual
individu di tempat kerja. Sementara, kinerja keselamatan diartikan sebagai
perilaku kerja yang relevan dengan keselamatan yang dapat dikonseptualisasikan
sama dangan perilaku-perilaku kerja lain yang merupakan hasil kerja. Komponen kinerja menggambarkan perilaku aktuali
yang dilakukan individu di tempat kerja. Komponen tersebut diantaranya: [3]
Safety
complience atau kepatuhan keselamatan, hal ini
berhubungan dengan aktivitas-aktivitas keselamatan yang perlu dilakukan oleh
individu untuk menjaga keselamatan kerja. Perilaku ini seperti menerapkan kerja
sesuai dengan standar operasional prosedur juga melaksanakan pekerjaan secara
aman engan memakai peralatan keselamatan atau alat pelindung diri.
Safety
participation atau partisipasi keselamatan, hal
ini menggambarkan perilaku yang secara tidak langsung mendukung keselamatan
dalam konteks organisasi yang lebih luas dalam hal membantu mengembangkan
lingkungan yang mendukung keselamatan. Perilaku ini seperti berpartisipasi
dalam kegiatan keselamatan secara sukarela, mempromosikan program keselamatan
di tempat kerja serta mendiskusikan dengan rekan kerja mengenai hal-hal yang
terkait dengan keselamatan.
Strategi Peningkatan Budaya Keselamatan
Organisasi dalam hal ini perusahaan untuk mencapai tujuan dan
menjaga kelangsungan hidup perusahaan harus mempertahankan dan mening-katkan
produktivitas karyawannya. Menciptakan budaya organisasi yang mampu membawa
pekerjanya untuk meningkatkan kinerja dalam rangka pencapaian tujuan organisasi
bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia
memiliki karakteristik tingkah laku yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Namun
apabila terdapat perbedaan atau kesenjangan persepsi antara pekerja dengan
pihak manajerial mengenai budaya organisasi yang dirasakan dan diharapkan, maka
akan tercipta ketidakpuasan kerja, motivasi kerja yang menurun, dan dapat
menimbulkan penyalahgunaan hak dan kewajiban yang pada atau ketidakpatuhan akhirnya
mengakibatkan tujuan organisasi tidak dapat dipenuhi secara optimal. Persoalan
ini semakin menumpuk dengan kecenderungan organisasi untuk berkembang,
menyesuaikan diri dengan perkembangan lingkungan disekitarnya sehingga pekerja
seringkali kehilangan identitas pribadi, dan pihak manajerial semakin sulit untuk
memuaskan kebutuhan pekerja dan mencapai tujuan organisasi sekaligus[4].
Dalam menciptakan budaya keselamatan yang positif sehingga dapat
mempengaruhi kinerja keselamatan pekerja, maka diperlukan berbagai starategi
atau upaya keselamatan. Occupational Safety and Health Administration (OSHA)
mendorong perusahaan untuk memelihara program-program yang menyediakan
kebijakan, prosedur dan praktik yang secara sistematis dapat melindungi pekerja
dan proses ptoduksi dari bahaya keselamatan. Beberapa upaya keselamatan
berdasarkan standar sistem manajemen yang efektif menurut OSHA yaitu: [5]
Komitmen
manajemen terhadap keselamatan, jika manajemen menunjukkan komitmen dan
mendukung dengan memberikan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengelola
keselamatan maka sistem yang efektif dapat dikembangkan dan dipertahankan.
Partisipasi
pekerja, adanya partisipasi pekerja dalam menetapkan, mengimplemantasikan dan
mengevaluasi program keselamatan memungkinkan pekerja untuk menunjukkan
komitmen keselamatan mereka kepada diri sendiri atau rekan kerja.
Identifikasi
dan penilaian bahaya, manajemen yang aktif dan partisipasi pekerja secara
berkesinambungan melakukan identifikasi dan penilaian risiko yang tentunya
dapat berubah sewaktu-waktu.
Pencegahan dan
pengendalian bahaya, menyusun perencanaan yang efektif untuk mencegah risiko
bahaya. Apabila tidak memungkinkan untuk menghilangkan bahaya, perencanaan
dapat membantu mengendalikan kondisi yang tidak aman (unsafe condition.
Informasi dan
pelatihan, merupakan bagian penting dari setiap program untuk memastikan bahwa
pekerja memahami persyaratan dan praktik kerja (SOP), potensi bahaya operasional,
sifat bahaya dan cara mengendalikan bahaya.
Evaluasi
keefektifan program, hal ini untuk memastikan sistem manaje-men sesuai dengan
kondisi di lapangan. Dapat dilakukan dengan mengembangkan sasaran dan tujuan
yang terukur seperti survei persepsi.
Program Pemberdayaan Pekerja
Pemberdayaan merupakan sebuah proses untuk menjadikan orang lebih
berdaya atau lebih berkemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri
dengancara memberikan kepercayaan dan wewenang sehingga menumbuhkan rasa
tanggung jawabnya. Shannon dalam Kines (2011) menjelaskan bahwa dalam tinjauan
terhadap sepuluh studinya menemukan bahwa pemberdayaan pekerja dan safety
represntative memiliki hubungan yang signifikan dengan penurunan angka
cedera. Selain itu, Torner (2009) mengemukakan bahwa kerjasama antar level hirarki
dalam fungsi organisasi, dukungan melalui pemberdayaan dan kepercayaan akan
menunjang keselamatan di tempat kerja[4].
Program yang paling umum dikembangkan dewasa ini yakni program dengan
dasar peningkatan kualitas serta pemberdayaan pekerja (safety empowerment).
Misalnya di salah satu perusahaan petrokimia di Kota Bontang yang menjalankan
program Non Confimity Report (NCR). Program Non Confimity Report
melibatkan setiap pekerja dalam organisasi untuk melaporkan ketidaksesuaian terhadap
hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan seperti:
Unsafe act atau tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja seperti; bercanda
atau bersenda gurau berlebihan saat melaksanakan pekerjaan, mengerjakan
pekerjaan yang tidak sesuai dengan skill atau keterampilannya
Unsafe
condition atau kondisi-kondisi yang tidak aman
dan mengancam keselamatan pekerja seperti; tempat kerja yang tidak memenuhi
standar misalnya kurangnya intensitas pencahayaan atau penerangan di ruang
kerja
Nearmiss atau kejadian hampir celaka seperti; terpeleset di tangga namun
tangan pekerja refleks memegang pegangan tanggga dan tidak menimbulkan cedera
Kerusakan fasilitas perusahaan, lingkungan dan
kesehatan seperti; lampu emergency exit rusak hal ini dapat menyulitkan
pekerja untuk mencari pintu keluar apabila terjadi keadaan emergency ditambah
blackout contoh lain misalnya korosi pada pegangan tangga.
Dengan adanya program NCR ini diharapkan setiap pekerja memiliki
rasa bertanggung jawab bersama terhadap setiap kegiatan yang berlangsung dalam proses
kerja serta produksi di perusahaan dan terlibat secara langsung dalam
usaha-usaha menjaga sistem kesehatan dan keselamatan di tempat kerja. Selain
itu program ini juga menutut pekerja untuk lebih peka dengan hal-hal yang
berkaitan dengan keselamatan. Kelebihan dari program NCR adalah jika
dilaksanakan dengan maksimal dengan artian seluruh atau paling tidak lebih dari
setengah dari jumlah pekerja ikut melaksanakan program ini maka jumlah insiden
dapat diminimalisir, mendorong perilaku aman bekerja, membantu manajemen dalam
hal ini Departemen K3 dalam melaksanakan pemeliharaan kesehatan dan keselamatan
kerja di perusahaan serta meningkatkan produktivitas baik pekerja maupun
produksi serta citra perusahaan. Kelemahan dari program ini adalah manajemen
perlu melakukan upaya refreshment sacara terus menurus agar
pekerja tidak jenuh dan dapat terus termotivasi untuk menjalankan NCR, misalnya
dengan sistem reward. Kemudian jika upaya refreshment dengan
metode reward sudah tidak menarik lagi maka dilakukan upaya dengan
memasukkan program NCR dalam rapot tahunan kinerja setiap pekerja. Dengan
konsekuensi apabila NCR tidak
dilaksanakan maka rapot tahunan kinerja pekerja bernilai buruk dan akan
berdapampak secara langsung pada posisi atau jabatan, gaji serta bonus gaji. Program NCR ini banyak
dijalankan oleh perusahaan-perusahaan dengan skala besar terutama di industri
petrokimia dan migas serta telah memiliki sistem kesehatan dan keselamatan
kerja yang terintegerasi. Program NCR ini tentunya juga diikuti oleh
program-program lain dalam rangka memberdayakan pekerja diantaranya pembuatan
HIRADC, Safety Comitee, pelatihan atau training, safety board atau
safety bulletin.
Program lain untuk meningkatkan kinerja keselamatan pekerja dengan
pendekatan pemberdayaan pekerja adalah program Safety Take 5. Pada
pelaksaannya program ini sangat mirip dengan prosedur dalam work permit namun
lebih kompleks. Safety Take 5 bertujuan untuk memastikan apakah setiap
aktivitas dalam suatu pekerjaan sudah bebas dari potensi bahaya yang mungkin
saja belum pernah ditemukan atau teridentifikasi sebelumnya. Singkatnya,
melakukan penilaian risiko di setiap suatu pekerjaan akan dimulai atau apabila
terdapat perubahan kondisi lingkungan kerja. Namun hal ini tidak berarti
mengganti atau mengoreksi penilaian risiko yang telah dilakukan formal oleh
manajemen sebelumnya (HIRADC). Ingat bahwa sifatnya hanya untuk memastikan
kembali suatu pekerjaan aman untuk dilaksanakan. Safety Take 5 yang banyak
diterapkan di perusahaan ini pada dasarnya memiliki 5 tahapan yaitu:
STOP! Think
Through the Task, pada tahap ini pekerja harus memastikan apakah ia memahami
betul tugas atau pekerjaan apa yang akan dilakukan, memiliki kemampuan dan
lisensi untuk melakukan pekerjaan tersebut, telah diizinkan untuk melakukan
pekerjaan tersebut (dari tim, supervisor atau bagian produksi) serta telah
membawa peralatan juga memakai alat pelindung diri yang benar. Apabila hal-hal
tersebut tidak terpenuhi maka pekerja harus Stop!
LOOK for
Hazard, pada tahap ini pekerja diminta untuk mengidentifikasi potensi bahaya
apa saja yang ada pada pekerjaan yang akan ia kerjakan. Misalnya bahaya Enviromental
diantaranya bahaya confined space (ruang terbatas), temperatur
ekstrem ataupun kebisingan. Pengkategorian bahaya bisa jadi bervariasi
tergantung jenis form Safety Take 5 model apa yang digunakan, pada
umumnya faktor atau jenis bahaya dibagi kedalam 5 faktor (fisika, kimia,
biologis, ergonomi dan psikologis). Namun hal ini tidak berdampak pada
penilaian, karena sebatas konseptual.
ASSESS the
Hazard, setelah mengidentifikasi potensi bahaya kemudian pada tahap ini pekerja
diminta untuk menilai seberapa besar kemungkinan dan konsekuensi dari bahaya, kemudian
menentukan level risiko. Apabila level risiko cenderung tinggi atau pada level
tertentu yang telah disepakati oleh organisasi sebelumnya maka pekerja harus
Stop! dan mengklarifika-sinya kepada supervisor pekerjaan terkait.
MANAGE the
Hazard, pada tahap ini pekerja sedapat mungkin mengontrol hazard yang ada
dengan hierarchy of control dan kemudian memastikan apakah pekerjaan
sudah bisa dilakukan dengan aman.
COMPLETE the
Task Safely, pada tahap ini pekerja sudah dapat melaksanakan tugasnya dengan
aman dengan catatan tetap waspada akan setiap perubahan yang mungkin terjadi
pada lingkungan kerjanya.
Gambar 2. Contoh Form Safety Take 5 by Kalamzoo Safety
Take 5 Book (Kalamzoo
Australia, 2013)
Dalam pelaksanaanya program ini dianggap membuang-buang waktu,
terutama apabila suatu pekerjaan harus segera dilakukan atau di intervensi
secepatnya. Padahal dengan pelaksaan program ini membuat pekrjaan tersebut dapat
diselesaikan dengan lebih cepat, mudah, murah dan yang paling utama aman.
Karena akibat-akibat buruk yang ditimbulkan baik saat pekerjan sedang dilakukan
maupun setelah dilakukan dapat diminimalisir sedemikian rupa. Contoh kasus
dimana seorang pekerja ingin melakukan
pekerjaan pengecekan material bahan curah berupa bebatuan, kerikil dan pasir
pada Silo atau Bunker Penyimpanan yang memiliki tinggi sekitar 25 meter,
setelah memanjat atau menaiki tangga setinggi tersebut kemudian ia baru
menyadari bahwa ia lupa membawa kunci untuk membuka inspection hatch, alhasil
ia harus turun kembali dan mengambil kunci tersebut dan memulai pekerjaannya
dari awal yaitu memanjat atau menaiki tangga tentunya dengan risiko ia terpapar
bahaya dengan frekuensi dua kali lipat. Bila saja si pekerja melaksanakan Safety
Take 5 sebelum melaksanakan pekerjaannya maka pekerjaa tersebut dapat
diselesaikan dengan lebih cepat, lebih mudah, dan hemat tenaga.
Gambar 3. Silo
penyimpanan 27 jenis bebatuan, kerikil, pasir untuk bahan bangunan di
Copenhagen, Denmark. (Wikipedia, 2003)
Kesimpulan
Budaya keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hasil dari
persepsi bersama yang berdasarkan dari nilai dan membentuk sebuah kebiasaaan
keselamatan kerja yang terus menerus di suatu organisasi atau tempat kerja.
Telah banyak penelitian membuktikan bahwa budaya keselamatan yang positif dapat
mempengaruhi kinerja keselamatan, hal ini secara langsung berdampak pada
pencapaian produktivitas pekerja dan organisasi.
“Beritahu
saya, maka saya akan lupa
Tunjukkan
kepada saya, maka saya akan ingat
Libatkan
saya, maka saya akan mengerti”
Seperti pepatah Cina diatas, dalam membangun budaya keselamatan
sangat dibutuhkan peran aktif dari para pekerja serta manajemen sebagai provider
dan penentu kebijakan. Dewasa ini usaha-usaha atau program kesehatan dan
keselamatan yang umum dilaksanakan berbasiskan pemberdayaan pekerja, sehingga
budaya keselamatan itu sendiri terbentuk dari kemandirian pekerja juga lebih
melekat dan bukan lagi program “kucing-kucingan” antara pekerja dan manajemen.
Banyak program-program keselamatan dengan basis pemberdayaan pekerja dikembangkan
diantaranya ada Non Conformity Rate, Safety Take 5, Behaviour Based Safety,
Safety Comitee, Emergency Response Team pelatihan keselamatan dan lain
sebagainya.
Referensi
[1] Antonsen,
S., 2009. Safety Culture: Theory, Method and Improvement. Ashtage Publishing, Aldershot.
[2] Cooper, M.,
2000. Towards a Model of Safety Culture. Safety Sciense 36: 111-136
[3] Griffin,
M.A., Neal, A., 2000. Perceptions of Safety at Work: a Framework for Linking
Safety Climate to Safety Performance, Knowladge and Motivation. Journal of
Occupational Health Psychology
[4] Muslima,
A., 2017. Gambaran Iklim Keselamatan (Safety Climate) di Unit Base
Maintanance PT Garuda Maintanance Facility (GMF) Aeroasia Tahun 2017.
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.
[5] Roughton,
J., Mercurio, J., 2002. Developing an Effective Safety Culture: A Leadership
Approach